Buku Langka Karya Isaac Newton Ditemukan di Prancis

Buku Langka Karya Isaac Newton Ditemukan di Prancis thumbnail
Foto: Buku karya Isaac Newton Seorang ahli konservasi di Prancis telah menemukan buku sains terlangka karya ahli fisika terkenal Isaac Newton. Buku ini merupakan cetakan pertama yang diterbitkan pada tahun 1687 dan hanya diproduksi sebanyak 400 buku. Vannina Schirinsky-Schikhmatoff, seorang direktur konservasi di perpustakaan warisan publik Fesch yang berlokasi di Ajaccio, Prancis tanpa sengaja menemukan…
Foto: Buku karya Isaac Newton

Seorang ahli konservasi di Prancis telah menemukan buku sains terlangka karya ahli fisika terkenal Isaac Newton. Buku ini merupakan cetakan pertama yang diterbitkan pada tahun 1687 dan hanya diproduksi sebanyak 400 buku.

Vannina Schirinsky-Schikhmatoff, seorang direktur konservasi di perpustakaan warisan publik Fesch yang berlokasi di Ajaccio, Prancis tanpa sengaja menemukan buku karya Newton ketika sedang mempelajari sebuah indeks dari pendiri perpustakaan, Lucien Bonaparte, yang merupakan salah satu saudara lelaki dari seorang negarawan terkenal sekaligus pimpinan militer Napoleon Bonaparte. Lucien memang dikenal menyukai buku dan memiliki koleksi 50.000 buku, dapat dikatakan buku karya Newton yang ada dalam koleksinya itu telah berumur sekitar 300 tahun.

“Saya menemukan Holy Grail (buku karya Newton) di ruang utama, tersembunyi di rak bagian atas. Sampulnya memiliki sedikit kerusakan tetapi dalamnya berada dengan kondisi yang sangat baik. Ini adalah buku hebat yang menjadi landasan matematika modern.” kata Schikmatoff dalam sebuah wawancaranya dengan AFP.

Isaac Newton adalah fisikawan, matematikawan dan ahli astronomi yang sangat dihormati diseluruh dunia. Teorinya telah membantu kita memahami tentang gravitasi dan tiga hukum gerak yang mendominasi pandangan sains mengenai alam semesta selama tiga abad. Salah satu karyanya yang populer adalah buku Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, terdiri dari 3 jilid dan kini menjadi buku sains terlangka dan termahal diseluruh dunia.

Dalam karya itu, Newton menguraikan mengenai hukum fisika universal tentang gravitasi dan gerak, membantu menjelaskan fenomena yang sebelumnya dijelaskan oleh para ilmuwan terkenal seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Menurut Universitas Stanford terdapat tiga hukum gerak terkenal yang tercantum dalam buku tersebut yaitu:

  1. Setiap objek dalam keadaan gerak seragam akan tetap berada dalam kondisi gerak itu kecuali jika kekuatan eksternal bekerja padanya.

  2. Gaya sama dengan percepatan kali massa.

  3. Untuk setiap tindakan ada reaksi yang sama dan berlawanan.

Pada awalnya karya besar itu kemungkinan tidak akan pernah diterbitkan, jika bukan karena upaya seorang astronom terkenal Inggris bernama Edmond Halley (namanya diabadikan menjadi nama salah satu komet yaitu komet Halley). Halley-lah yang mendorong Newton untuk menuangkan ide dan teorinya dalam bentuk teks dan membantu proses editing karya sang fisikawan tersebut. Halley juga terlibat menanggung sebagian besar biaya pencetakan karena Royal Society (akademi ilmiah independen tertua di dunia) kala itu kehabisan dana dan tidak mampu lagi membiayai proyek.

Berdasarkan laporan The Guardian, setelah cetakan pertama buku Newton ini dipublikasikan dan didistribusikan ke seluruh daratan Eropa, barulah kemudian mulai banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, cetakan pertama Philosophiae ini sangatlah di hargai mengingat hanya sekitar 400 buku yang diproduksi.

Ternyata di perpustakaan Fesch penemuan buku langka bukanlah pertama kalinya. Pada 2018 lalu, Schikmatoff pernah menemukan “Thesaurum Hyeroglyphicorum”, yakni sebuah studi tentang Hieroglif Mesir yang berasal dari tahun 1610-sekitar 200 tahun sebelum Jean-Francois Champollion dari Prancis menguraikan bagian-bagian Batu Rosetta.

“Sebuah buku berbahasa latin terjual US$ 3,7 juta (Rp 52 miliar) di tempat lelang Christie, New York beberapa tahun lalu dan buku itu rupanya salah satu yang ada di perpustakaan Ajaccio,” kata Schirinsky-Schikhmatoff, mengacu pada sebuah buku yang dijual pada Desember 2016 di New York, dimana identitas pembelinya dirahasiakan.

Sumber: nytimes.com |theguardian.com | newsweek.com

Sumber foto: commons.wikimedia.org

Read More